MTC Karya Persada Cetak Pelaut Dunia, Tapi Ditinggal Daerah Sendiri

Sabtu, 11 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

SIBERMEDIA.ID, MUNA – Di tengah tingginya kebutuhan tenaga pelaut profesional untuk pasar global, keberadaan Maritim Training Center (MTC) Karya Persada Muna justru menyimpan ironi. Lembaga ini terbukti mampu mencetak pelaut bersertifikat internasional yang bekerja hingga ke kapal luar negeri, namun dukungan dari pemerintah daerah masih terasa minim.

Sejak beroperasi pada 2017, MTC Karya Persada berkembang menjadi salah satu pusat pelatihan maritim berstandar global di Indonesia. Dengan fasilitas yang memenuhi kualifikasi internasional, lembaga ini konsisten meluluskan tenaga kerja siap pakai yang memenuhi standar keselamatan dan kompetensi dunia.

Namun, capaian tersebut belum diiringi perhatian serius dari pemerintah daerah.

Pimpinan MTC Karya Persada Muna, Yan Zakri Tanjung, menegaskan bahwa kualitas fasilitas menjadi faktor utama dalam memperoleh pengakuan internasional. Menurutnya, standar sarana dan prasarana bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat mutlak agar sertifikat diakui secara global.

“Kalau fasilitas memenuhi standar, sertifikat internasional bisa diterbitkan. Itu yang kami jaga,” ujarnya.

Di bawah kepemimpinannya sejak 2025, MTC mencatat peningkatan signifikan. Sepanjang tahun itu, sekitar 600 sertifikat Basic Safety Training (BST) diterbitkan. Secara keseluruhan, lebih dari seribu peserta telah diluluskan sejak lembaga ini berdiri.

Baca Juga :  Rumah BUMN PLN Muna Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Program Gratis dan Pendampingan Lengkap

Yang menarik, mayoritas peserta justru datang dari luar Sulawesi Tenggara, terutama dari Pulau Jawa. Fakta ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan terhadap MTC lebih besar datang dari luar daerah dibandingkan dari lingkungan sendiri.

“Peserta dari luar justru lebih banyak. Sementara dari daerah sendiri masih minim. Ini yang kami sesalkan,” kata Yan.

Ironi semakin terasa ketika sekolah-sekolah vokasi kemaritiman di Sulawesi Tenggara belum memanfaatkan fasilitas pelatihan tersebut secara optimal. Padahal, keberadaan MTC bisa menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kualitas lulusan lokal agar mampu bersaing di industri maritim global.

Secara kelembagaan, MTC Karya Persada telah mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015 dan mengacu pada standar International Maritime Organization (IMO). Dengan legitimasi ini, MTC bahkan disebut sebagai satu-satunya lembaga pelatihan maritim di Sulawesi Tenggara yang memenuhi standar internasional.

Namun tanpa dukungan konkret, potensi besar ini terancam stagnan.

“Seharusnya ini jadi perhatian serius pemerintah daerah. Fasilitas sudah ada, tinggal dimanfaatkan,” tegas Yan.

Dalam konteks global, pelatihan pelaut mengacu pada konvensi STCW 2010 (Standards of Training, Certification, and Watchkeeping for Seafarers) yang menjadi syarat wajib bagi siapa pun yang ingin bekerja di kapal, baik nasional maupun internasional.

Baca Juga :  KPUD Butur Mendapat Dana Hibah Pilkada Senilai 26 Milyar, Kini Digeledah Kejari Muna

MTC sendiri menerbitkan empat sertifikat utama yang menjadi pintu masuk dunia kerja pelaut, yakni Basic Safety Training (BST), Medical First Aid (MFA), Advanced Fire Fighting (AFF), serta Survival Craft and Rescue Boat (SCRB). Seluruhnya merupakan sertifikat kompetensi yang wajib dimiliki dan diperbarui setiap lima tahun.

“Tanpa sertifikat ini, pelaut tidak bisa bekerja. Ini standar global, bukan sekadar formalitas,” jelasnya.

Mantan kapten Kapal yang pernah melewati selat Homuz ini mengetengahkan, BST menjadi tahap awal bagi calon pelaut, mencakup pelatihan keselamatan dasar untuk berbagai jenis kapal, mulai dari kapal niaga hingga sektor pertambangan dan offshore.

Dengan kapasitas dan rekam jejak tersebut, MTC Karya Persada sejatinya bukan sekadar lembaga pelatihan, melainkan aset strategis daerah dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu menembus pasar kerja internasional.

“Sayangnya, hingga kini dukungan yang diharapkan masih sebatas wacana,” imbuh Yan.

Yan menyoroti, jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Sulawesi Tenggara hanya akan menjadi penonton, sementara peluang besar di industri maritim global justru dimanfaatkan oleh daerah lain.

Penulis : Rizal

Berita Terkait

134 Perangkat Desa Di Muna Yang Masuk P3K PW Harus Memilih Salah Satu, Jika Tidak Kontraknya Tidak Diperpanjang
PAGAR PALMERAH Jadi Wadah Bersama Pedagang Gelora-Palmerah, Dorong Persatuan dan Pemberdayaan
Kolaborasi Rumah BUMN PLN Muna dan SMKN 1 Muna Dorong Jagung Lokal Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Bersiap Akan Ada Kejutan Dalam Penanganan Perkara Kejari Muna Walaupun HUT Kejaksaan Ke-81 Tidak Ada Pengungkapan Kasus
Rumah BUMN PLN Muna Gelar Pelatihan Sertifikasi HKI, Dorong UMKM Lindungi Merek Usaha
Lahan 60 Hektare Yang Di sertifikatkan Pemda Muna Tahun 2018 Tanpa Ada Sosialisasi Dengan Penguasa Lahan Sejak Tahun 1997, Ini Respon Keras Aleg DPRD Muna
Rumah BUMN PLN Muna libatkan UMKM di Gebyar Bazar HUT Kabupaten Muna
Selama 4 Bulan Gaji ASN P3K PW Di Muna Akan Dibayarkan Dengan Nominal Per Bulan Rp 300.000

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 13:20

134 Perangkat Desa Di Muna Yang Masuk P3K PW Harus Memilih Salah Satu, Jika Tidak Kontraknya Tidak Diperpanjang

Selasa, 15 September 2026 - 22:46

PAGAR PALMERAH Jadi Wadah Bersama Pedagang Gelora-Palmerah, Dorong Persatuan dan Pemberdayaan

Rabu, 9 September 2026 - 08:37

Kolaborasi Rumah BUMN PLN Muna dan SMKN 1 Muna Dorong Jagung Lokal Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Rabu, 2 September 2026 - 17:59

Bersiap Akan Ada Kejutan Dalam Penanganan Perkara Kejari Muna Walaupun HUT Kejaksaan Ke-81 Tidak Ada Pengungkapan Kasus

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:55

Rumah BUMN PLN Muna Gelar Pelatihan Sertifikasi HKI, Dorong UMKM Lindungi Merek Usaha

Berita Terbaru