Oleh: Alyoyo Priyo Wahyu Utomo
(Ketua Repdem Kota Kendari)
KENDARI – Bangsa Indonesia kembali menyongsong momentum Bulan Bung Karno, sebuah periode penting untuk mengenang pemikiran, perjuangan, dan semangat kebangsaan yang diwariskan Soekarno kepada rakyat Indonesia. Kendati Bulan Bung Karno baru akan terlaksana sepanjang bulan Juni, namun beberapa elemen masyarakat telah menyongsongnya pada bulan Mei, karena hal ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang refleksi untuk meneguhkan kembali arah perjuangan bangsa, terutama bagi generasi muda.
Bung Karno sejak dahulu menempatkan pemuda sebagai kekuatan utama perubahan. Keyakinannya terhadap anak muda tercermin dalam kutipannya yang sangat dikenal, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu bukan hanya simbol optimisme, tetapi juga pesan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh keberanian dan kualitas generasi mudanya.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejarah Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Dari momentum Sumpah Pemuda, perjuangan kemerdekaan, hingga reformasi 1998, pemuda selalu hadir di garis depan perubahan. Anak muda menjadi motor perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekuatan yang menjaga semangat persatuan bangsa.
Namun di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, peran pemuda hari ini menghadapi tantangan besar. Arus digitalisasi yang begitu cepat menghadirkan berbagai peluang, tetapi juga membawa ancaman berupa polarisasi sosial, budaya instan, penyebaran hoaks, hingga menurunnya kualitas diskusi publik. Di sisi lain, kepercayaan generasi muda terhadap dunia politik juga mulai melemah.
Ironisnya, dalam banyak momentum politik, pemuda sering kali hanya dijadikan alat musiman. Anak muda ramai dicari menjelang pemilu atau pilkada untuk menjadi penggerak media sosial, pembuat konten, pengumpul massa, hingga alat propaganda digital. Namun setelah kontestasi selesai, ruang keterlibatan mereka kembali mengecil.
Fenomena ini juga terjadi di berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Tenggara. Energi besar yang dimiliki anak muda belum sepenuhnya diarahkan untuk melahirkan kepemimpinan baru yang berintegritas dan berpihak kepada rakyat. Padahal daerah membutuhkan generasi muda yang berani berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Momentum menyongsong Bulan Bung Karno seharusnya menjadi pengingat bahwa politik tidak boleh hanya dipahami sebagai perebutan kekuasaan.
“Politik harus kembali menjadi ruang perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan masyarakat, dan kemajuan bangsa.”
Bung Karno pernah mengingatkan, “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tetapi warisilah api Sumpah Pemuda.”
Pesan tersebut sangat relevan bagi generasi muda hari ini. Pemuda tidak boleh kehilangan idealisme di tengah pragmatisme politik yang semakin kuat. Anak muda harus tetap menjadi kekuatan moral yang berani menyuarakan kebenaran dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Karena itu, generasi muda tidak boleh memilih diam atau apatis terhadap keadaan. Pemuda harus hadir di tengah masyarakat, mendengar aspirasi rakyat, membangun ruang demokrasi yang sehat, dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa dan daerah.
Partai politik, organisasi kepemudaan, kampus, dan pemerintah daerah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membuka ruang yang sehat bagi generasi muda. Regenerasi kepemimpinan tidak boleh berhenti pada slogan dan pencitraan semata. Anak muda harus diberi kesempatan nyata untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan pembangunan daerah.
Sebagai Ketua REPDEM Kota Kendari, saya meyakini bahwa masa depan Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara, sangat bergantung pada keberanian generasi mudanya hari ini. Bangsa ini membutuhkan anak muda yang berpikir maju, menjaga semangat persatuan, memiliki integritas, dan tidak takut memperjuangkan kepentingan rakyat.
Menyongsong Bulan Bung Karno, sudah saatnya semangat perjuangan itu kembali dihidupkan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang sejarahnya, tetapi bangsa yang mampu melanjutkan cita-cita perjuangan para pendirinya.
“Dan seperti keyakinan Bung Karno, harapan besar Indonesia akan selalu ada pada pundak pemudanya”.










