SIBERMEDIA.ID,KENDARI-Bakal Calon Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 Dr. Baru Sadarun dengan visi UHO KEREN (Bergerak, Bertumbuh, Berdampak) Melalui konsep Global Talent University, UHO diproyeksikan menjadi kampus yang mengintegrasikan pendidikan, riset, inovasi, industri, dan jejaring internasional dalam satu ekosistem berbasis luaran (outcome), sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kompetitif dipasar kerja global.
Menurutnya, Perguruan tinggi tidak lagi cukup diukur dari jumlah lulusan, akreditasi, maupun megahnya infrastruktur kampus. Di tengah percepatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi digital, ekonomi hijau, dan meningkatnya mobilitas tenaga kerja global, universitas dituntut menghasilkan lulusan yang siap bekerja, mampu berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Dr. Baru Sadarun, transformasi tersebut tidak berhenti pada peningkatan kualitas akademik, melainkan diarahkan agar UHO menjadi bagian dari solusi pembangunan ekonomi Sulawesi Tenggara.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jika kami diberi amanah memimpin Universitas Halu Oleo, komitmen utama kami adalah menjadikan UHO sebagai bagian dari solusi nyata dalam menurunkan pengangguran terdidik, memperluas kesempatan kerja, sekaligus berkontribusi mengurangi ketimpangan ekonomi di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Komitmen itu lahir dari tantangan pembangunan daerah yang masih dihadapkan pada persoalan kualitas sumber daya manusia, kesempatan kerja, dan pemerataan kesejahteraan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Gini Ratio Sulawesi Tenggara pada Maret 2025 sebesar 0,363 yang menandakan ketimpangan distribusi pendapatan masih menjadi tantangan pembangunan.
Di sisi lain, pengangguran terbuka, terutama pada kelompok usia muda dan lulusan pendidikan tinggi, masih memerlukan perhatian serius. Karena itu, UHO KEREN mengusung paradigma baru bahwa universitas tidak boleh sekadar menjadi “pabrik ijazah”, tetapi harus menjadi mesin pencetak talenta global, pusat inovasi, laboratorium hidup industri, dan penggerak mobilitas sosial masyarakat.
Transformasi dimulai melalui pembaruan kurikulum berbasis kompetensi abad ke-21. Seluruh program studi akan memperkuat critical thinking, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi digital, kecerdasan buatan (AI), kewirausahaan, serta penguasaan bahasa asing sebagai kompetensi utama lulusan.
Pembelajaran diarahkan berbasis proyek, penyelesaian masalah, inovasi, serta kolaborasi erat dengan dunia usaha dan dunia industri agar kompetensi lulusan selaras dengan kebutuhan pasar kerja.
Sebagai penguatan, UHO akan menerapkan Magang Internasional Wajib sebagai bagian dari sinkronisasi pendidikan dengan industri global.
Program ini menargetkan 500 mahasiswa mengikuti magang internasional setiap tahun, masing-masing 100 mahasiswa di Jepang, Australia, Belanda, Tiongkok/Taiwan, serta Jerman atau Amerika Serikat.
Penempatan dilakukan pada sektor manufaktur, teknologi, perhotelan, pertanian modern, kelautan, perikanan, pengolahan pangan, layanan kesehatan, hingga industri kreatif sesuai kompetensi masing-masing.
Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman kerja internasional, sertifikasi kompetensi global, peningkatan kemampuan bahasa asing, jejaring profesional internasional, dan budaya kerja berstandar global.
Dengan demikian, lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga portofolio pengalaman profesional yang meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Program magang tersebut menjadi bagian dari Talent Mobility System, yakni sistem pengembangan talenta yang mengintegrasikan pendidikan, sertifikasi kompetensi, internship, study abroad, work abroad, pembinaan karakter, dan jejaring industri internasional. Jalur pengembangan mahasiswa dirancang berkesinambungan sejak memasuki bangku kuliah hingga memasuki dunia profesional global.
UHO juga membangun lima ekosistem keunggulan, yaitu Education Ecosystem, Certification Ecosystem, Internship Ecosystem, Study Abroad Ecosystem, dan Global Career Ecosystem. Lima pilar ini didukung pusat pembelajaran bahasa asing, sertifikasi internasional, penempatan magang, konsultasi studi lanjut, hingga fasilitasi kerja di perusahaan global sebagai satu rantai pengembangan SDM yang terintegrasi.
Sebagai kelanjutannya, UHO mengembangkan Global Scholarship Ecosystem yang menghubungkan magang internasional dengan studi lanjut S2 dan S3 di luar negeri. Alumni akan memperoleh pendampingan bahasa, penyusunan proposal riset, publikasi ilmiah, hingga persiapan wawancara beasiswa.
Program tersebut menargetkan 100–200 alumni setiap tahun melanjutkan pendidikan S2 maupun S3 di Jepang, Australia, Belanda, Tiongkok, Taiwan, Jerman, maupun Amerika Serikat melalui berbagai skema beasiswa
pemerintah, universitas dunia, lembaga riset, maupun kemitraan industri internasional. Untuk mendukung target tersebut, UHO akan memperkuat Japanese Digital Learning Center (JDLC) dan pusat pembelajaran bahasa internasional.
Mahasiswa dipersiapkan memperoleh sertifikasi seperti JLPT, JFT Basic, TOEIC, dan TOCFL sebagai prasyarat studi maupun karier global.
Dr. Baru Sadarun menegaskan, keberhasilan universitas pada masa depan tidak lagi diukur dari banyaknya wisudawan, tetapi dari tingkat penyerapan lulusan, jumlah alumni yang diterima di perguruan tinggi kelas dunia, serta kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi daerah.
“Target kami bukan sekadar meluluskan sarjana. Kami ingin melahirkan generasi yang mampu bekerja secara global, menciptakan lapangan kerja, melanjutkan studi di universitas terbaik dunia, kemudian kembali membawa ilmu, teknologi, investasi, dan jejaring internasional untuk membangun Sulawesi Tenggara,” katanya.
Sebagai indikator keberhasilan, UHO KEREN menetapkan target 90 persen lulusan terserap di dunia kerja dalam waktu enam bulan setelah wisuda pada 2030, 500 mahasiswa mengikuti magang internasional setiap tahun, serta 100–200 alumni memperoleh beasiswa S2 dan S3 setiap tahun.
Sebagai perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara, UHO juga diproyeksikan menjadi Jembatan Talenta Global Indonesia Timur yang menghubungkan potensi sumber daya manusia daerah dengan universitas, perusahaan multinasional, lembaga riset, dan pemerintah berbagai negara.
Kampus diharapkan menjadi pusat lahirnya talenta yang mampu menjawab kebutuhan industri global sekaligus memperkuat pembangunan sektor strategis seperti pariwisata, ekonomi kreatif, pertanian modern, kelautan,perikanan, dan ekonomi digital.
Melalui visi “UHO KEREN: Bergerak, Bertumbuh, Berdampak,” transformasi ini diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan reputasi Universitas Halu Oleo sebagai kampus berkelas dunia, tetapi juga menjadikan pendidikan tinggi sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah.
Peningkatan kualitas SDM, perluasan kesempatan kerja, tumbuhnya kewirausahaan berbasis inovasi, serta meningkatnya investasi diharapkan menjadi faktor yang mendorong penurunan pengangguran terdidik dan memperkecil ketimpangan ekonomi di Sulawesi Tenggara secara berkelanjutan.










