SIBERMEDIA.ID, JAKARTA – Inflasi di Indonesia pada Februari 2026 tercatat masih berada dalam kondisi terkendali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 mencapai 0,68 persen secara bulanan (month to month/mtm) atau 4,76 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Informasi tersebut dilansir dari laman resmi Bank Indonesia, yang menjelaskan bahwa perkembangan inflasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa kelompok komoditas utama, baik dari inflasi inti, bahan makanan bergejolak, maupun harga yang diatur pemerintah.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari sisi inflasi inti (core inflation), kenaikan tercatat sebesar 0,42 persen (mtm) atau 2,63 persen (yoy). Inflasi pada kelompok ini antara lain dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan, mobil, dan minyak goreng, seiring meningkatnya harga emas global serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Sementara itu, kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) juga memberikan kontribusi terhadap inflasi dengan kenaikan 2,50 persen (mtm) dan 4,64 persen (yoy). Komoditas yang menjadi penyumbang utama di antaranya cabai merah, cabai rawit, serta daging ayam ras. Kenaikan harga komoditas tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan menjelang Ramadan serta gangguan pasokan akibat faktor cuaca.
Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm). Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya pada komoditas bensin.
Bank Indonesia juga menilai bahwa secara keseluruhan inflasi tetap berada dalam jalur yang terkendali. Bahkan pada Januari 2026 sempat tercatat deflasi sebesar -0,15 persen (mtm) sebelum kembali meningkat moderat pada Februari.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi pada 2026 hingga 2027 akan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen. Optimisme ini didukung oleh konsistensi kebijakan moneter, sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional.
Selain itu, tekanan inflasi juga diperkirakan menurun seiring berakhirnya low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang berlaku pada Januari–Februari 2025.
Dengan berbagai faktor tersebut, stabilitas harga diharapkan tetap terjaga, meski beberapa komoditas pangan seperti cabai dan daging ayam masih perlu mendapat perhatian agar tidak memicu lonjakan inflasi di masa mendatang. (Red)










